Social Icons

Pages

Selasa, 08 Maret 2011

PENGARUH KERAPATAN DAN PENUTUPAN LAMUN TERHADAP KELIMPAHAN SPONGE PADA DAERAH PADANG LAMUN DI PULAU BARRANG LOMPO

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Padang lamun merupakan bentangan tetumbuhan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas Angiospermae. Lamun adalah tumbuhan air yang berbunga (spermatophyta) yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, dan berakar. Hidup terbentang pada kedalaman 0,5-20 meter, kemudian terumbu karang. Lamun mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Secara ekologis, lamun mempunyai beberapa fungsi penting. Lamun merupakan produktifitas primer di perairan dangkal diseluruh dunia dan merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme (Terrados, 2003 ).
Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga, ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa biota laut, seperti: ikan, krustacea, moluska, dan bintang laut.
Pulau Barrang lompo memiliki jenis lamun yang cukup luas dan memiliki beraneka ragam organisme yang berasosiasi didalamnya. Hal tersebut memungkinkan diadakannya praktek lapang pada daerah tersebut. Terdapat enam spesies lamun di perairan laut pulau barrang lompo, yang mempunyai peranan sangat penting karena dapat menstabilkan substrat ataupun sedimem-sedimen yang masuk kepereiran pulau barrang lompo (Rohani, 2004).


1.2 Tujuan dan kegunaan
Praktik lapang ini berturjuan untuk mengetahui pengaruh kerapatan dan penutupan lamun terhadap kelimpahan invertebrata yang berasosiasi dengan padang lamun. Diharapkan praktik lapang ini berguna untuk memahami cara perhitungan kerapatan lamun, penutupan lamun, dan kelimpahan invertebrata.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup praktek lapang ini mencakup pengukuran kerapatan lamun, penutupan lamun, identifikasi lamun, dan invertebrata. Pengukuran parameter lingkungan seperti salinitas, suhu, dan kecepatan arus sebagai faktor pendukung.















II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Lamun
Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi yang dominan. Lamun atau rumput-rumputan laut (seagrass) adalah kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dan berkeping tunggal (monokotil) yang mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut (den Hartog, 1977).
Lamun biasa tumbuh di atas paparan pasir atau lumpur yang terendam air laut dangkal. Karena perlu berfotosintesis, komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasang surut sampai kedalaman tertentu di mana cahaya matahari masih dapat mencapai dasar laut (Nybakken, 1988).
Sifat ekologis keragaman jenis-jenis lamun sesungguhnya tak berapa tinggi. Total hanya sekitar 50 jenis lamun di seluruh dunia (den Hartog, 1977) .Akan tetapi padang lamun memiliki sifat-sifat ekologis penting sebagai habitat aneka jenis hewan, terutama ikan-ikan kecil dan avertebrata (hewan tak bertulang belakang).
Lamun tumbuh dengan padat sampai dengan 4.000 individu/m², sehingga membentuk lapisan serupa permadani (Nybakken, 1988). Jenis-jenis lamun ini memiliki morfologi yang hampir sama, berdaun panjang dan tipis yang tumbuh dari rizoma (akar tinggal) yang menjalar di bawah lapisan pasir. sebab itu lamun dapat tumbuh rapat dan padat berdekatan.
2.2 Jenis-jenis Lamun
Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yaitu: Hydrocharitaceae dan Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata, dan Thallassodendron ciliatum (Den Hartog 1970)
2.2.1. Enhalus acroides


Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Antophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Hydrocharitaceae
Genus : Enhalus
Spesies:Enhalus acoroides

2.2.2. Halophila decipiens

Klasifikasi:
Kingdom: Plantae
Divisi : Antophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Genus : Halophila
Spesies : Halophila decipiens

2.2.3. Halodule uninervis

Gambar 3 Halodule uninervis (Den Hartog, 1970)
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Antophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Genus : Halodule
Spesies : Halodule pinifolia

2.2.4 Cymodocea rotundata


Klasifikasi:
Kingdom: Plantae
Divisi : Antophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Genus : Cymodocea
Spesies: Cymodocea rotundata
2.2.5 Cymodocea serrulata

Klasifikasi:
Kingdom: Plantae
Divisi : Antophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Genus : Cymodocea
Spesies : Cymodocea serrulata

2.2.6 Halodule pinifolia

Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Antophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Genus : Halodule
Spesies : Halodule pinifolia
2.2.7 Syringodium isoetifolium

Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Antophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Genus : Syringodium
Spesies: Syringodium isoetifolium

2.2.8 Thalassia hemprichii


Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Liliopsida
Ordo : Hydrocharitales
Famili : Hydrocharitaceae
Genus : Thalassia
Spesies : Thalassia hemprichii

2.2.9 Halophila ovalis





Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Liliopsida
Ordo : Alismatales
Famili : Hydrocharitaceae
Genus : Halophila
Spesies : Halophila ovalis

2.2.10 Thalassodendron ciliatum


Klasifikasi:
Regnum : Plantae
Divisi : Magnolyophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Helobiae
Famili : Potamogetonaceae
Genus : Thalassodendron
Spesies : Thalassodendron ciliatum
2.2.11 Halophila spinul
Klasifikasi:
Kingdom: Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Hydrocharitales
Famili : Hydrocharitaceae
Genus : Halophila
Spesies : Halophila spinulosa

2.3 Asosiasi Invertebrata di Padang Lamun
2.3.1 Spons
spons atau hewan berpori adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana. Memiliki ciri-ciri diantarnaya tubuhnya berpori (ostium), tubuh porifera asimetri (tidak beraturan), berbentuk seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau tumbuhan, memiliki tiga tipe saluran air, yaitu askonoid, sikonoid, dan leukonoid serta memiliki pencernaan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit ().
Spons hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di laut ().
Spons melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal. Gemmule dihasilkan menjelang musim dingin di dalam tubuh Porifera yang hidup di air tawar. Secara seksual dengan cara peleburan sel sperma dengan sel ovum, pembuahan ini terjadi di luar tubuh porifera ().
Spons sangat berpengaruh terhadap lamun karena spons berperan dalam penstabil sedimen-sedimen yang masuk di daerah padang lamun karena spons menyerap sedimen sebagai makanannya ().
2.4 Faktor-faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi terhadap distribusi dan kestabilan ekosistem padang lamun adalah sebagai berikut :
2.4.1 Kecerahan
Lamun memiliki intensitas cahaya, yang dapat di gunakan sebagai proses fotosintesis. Hal ini menyebabkan, lamun sulit tumbuh di perairan yang lebih dalam. Intensitas cahaya untuk laju fotosintesis ditunjukkan dengan peningkatan suhu.
2.4.2 Temperatur
Suhu optimal pada pertumbuhan lamun yaitu 28-30C (Zimmerman et.Al. 1987; Philips dan Mehez 1988; dan Nybakken, 1993). Hal ini berkaitan dengan kemampuan proses fotosintesis yang akan menurun apabila temperatur berada di luar kisaran tersebut.
2.4.3 Salinitas
Kisaran salinitas yang dapat ditolerir tumbuhan lamun adalah 10–40‰ dan nilai optimumnya adalah 35‰. Penurunan salinitas akan menurunkan kemampuan lamun untuk melakukan fotosintesis. Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi juga terhadap jenis dan umur. Lamun yang tua dapat mentoleransi fluktuasi salinitas yang besar. Salinitas juga berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas (Kiswara 1997).
2.4.4 Substrat
Padang lamun hidup pada berbagai macam jenis-jenis substrat. Substrat yang memiliki kedalaman, berperan dalam menjaga stabilitas sedimen yang dapat berfungsi sebagai pelindung dari arus air laut dan sebagai tempat pengolahan nutrient (Kiswara 1997)
2.4.5 Kecepatan arus
Kecepatan arus dipengaruhi oleh adanya jenis perairan yaitu perairan terbuka dan tertutup, kecepatan angin, dan kedalaman perairan. Kecepatan arus dapat mempengaruhi produktivitas padang lamun (Nontji, A. 1987).
2.4.6 Kekeruhan
Kekeruhan dapat di sebabkan, karena partikel-partikel tersuspensi dari bahan agranik atau sedimen, terutama pada ukuran yang halus dan dalam jumlah yang lebuh pada perairan pantai yang keruh. Cahaya merupakan faktor pembatas pada pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo, 1997).
2.4.7 Kedalaman
Pada kedalaman perairan yang dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun dapat tumbuh pada zona intertidal bawah dan subtidal atas, hingga mensapai kedalaman 30 meter. Pada zona intertidal diciri oleh tumbuhan pionir yang di dominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, dan Halodule pinifolia. Sedangkan pada Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo, 1997). Kerapatan dan pertumbuhan lamun, dapat dipengaruhi oleh kedalaman perairan.
2.5 Kondisi Lamun dan Invertebrata Pulau Barrang Lompo
Pulau Barrang lompo terletak di antara 119o 19’ 44 BT dan 50 2’ 51 LS. Secara administratif pulau Barrang lompo merupakan wilayah desa yang berbentuk pulau. Luas wilayah daratan pulau barrang lompo adalah 89 hektar (Rohani, 2004).
Pulau Barrang lompo terlletak sekitar 12 km sebelah barat kota Makassar dan berada dikawasan spermonde. Kepulauan Barrang lompo merupakan pulau yang memiliki kondisi lamun yang masih alami, dengan , yang mempunyai substrat berupa pasir dan karang (Rohani, 2004).
Terdapat enam spesies lamun di perairan laut pulau barrang lompo, yang mempunyai peranan sangat penting karena dapat menstabilkan substrat ataupun sedimem-sedimen yang masuk kepereiran pulau barrang lompo. Padang lamun merupakan tempat berasosiasi bagi organisme invertebrata. Invertebrata tersebut mencari makan dan bertempat tinggal di padang lamun (Rohani, 2004).
Pada penelitian kali ini pada pulau Barrang lompo ditemukan organisme invertebrata yang berasosiasi dengan lamun yaitu spons, bulubabi dan ikan anemon. Pada penelitian tersebut invertebrata yang melimpah adalah spons dan bulu babi.






III. METODE PRAKTEK LAPANG
3.1 Waktu dan Tempat
Praktek lapang dilaksanakan pada tanggal 6 November 2010, yang berlokasi di pulau Barrang Lompo, kecamatan Ujung Tanah, kota Makassar.
3.2 Alat dan Bahan.
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktek lapang kalai ini adalah sebagai berikut : Transek yang berukuran 1X1m yang berfungsi untuk pembatas ruang pengambilan data, alat dasar yang berfungsi untuk membantu dalam pengambilan data, Sabak yang berfungsi untuk tempat menulis data, Layang–layang arus untuk mengukur kecepatan arus, kompas bidik berfungsi untuk mengetahui derajat, hand refractometer berfungsi untuk mengukur salinitas, Termometer berfungsi untuk mengukur suhu, stopwatch berfungsi untuk mengukur waktu, dan Alat tulis menulis (spidol permanen dan pensil) yang berfungsi untuk menulis.
3.2.2 Bahan
Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktek lapang kalin ini adalah kantong sampel yang berfungsi untuk tempat menyimpang sampel.
3.3 Prosedur Kerja Praktek Lapang
Prosedur kerja praktek lapang sebagai berikut:
1. Melakukan penentuan lokasi pengamatan untuk mengetahui pengaruh kerapatan dan penutupan lamun terhadap kelimpahan invertebrata yang berasosiasi dengan padang lamun.
2. Transek kuadran diletakkan pada daerah lamun yang telah ditentukan.
3. Setelah itu, hitung masing-masing persentase tutupan lamun pada setiap transek kuadran.
4. Kemudian, hitung jumlah jenis lamun yang didapat pada masing-masing transek kuadran.
5. Hitung pula jumlah tegakan lamun pada setiap kisi transek kuadran.
6. Setelah no.3, 4, dan 5 sudah dihitung, maka hitung pula jumlah individu invertebrata, sesuai dengan masing-masing pembagian jenis perorang yang berada di dalam transek kuadran.
7. Kemudian lakukan pengulangan pada prosedur no. 3-5, pada lokasi yang berbeda sebanyak 4 kali.
3.4 Pengolahan Data
3.4.1 Kerapatan/kepadatan Jenis (Odum, 1971).

Dimana D : kerapantan jenis (tegakan/1m2)
ni : jumlah tegakan spesies i (tegakan)
A : luas daerah yang disampling (1m2)
Tabel 1. Skala kondisi padang lamun berdasarkan kerapatan (Odum, 1971).
Skala Kerapatan (ind/m2) Kondisi
5 ≥ 625 Sangat rapat
4 425-624 Rapat
3 225-424 Agak Rapat
2 25-224 Jarang
1 < 25 Sangat Jarang

3.4.2 Penutupan Lamun (Odum, 1971).

Dimana C = Persentase penutupan Lamun
3.4.3 Kelimpahan organisme (Odum, 1971).

Dimana D : Kelimpahan individu/1m2
ni : Jumlah seluruh individu perspesies (transek)
A : luas daerah yang disamping (1m2)























DAFTAR PUSTAKA
Hartog, C.den. 1970. Seagrass Of The World. North –Holland Publ.Co., Amsterdam Kikuchi dan J.M. Peres. 1997. C
Dahuri, R.J.Rais, S.P. Ginting dan M.J. Sitepu. Zool. Pengelolaan sumber daya wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Firsted. Pradnya Paramitha Jakarta.
Fairhurst, R.A. and K.A. Graham. 2003. Seagrass bed-sediment characteristics of Manly Lagoon. In: Freshwater Ecology Report 2003. Department of Environmental Sciences, University of Technology, Sydney.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut: suatu pendekatan ekologis. Alih bahasa H. Muh. Eidman dkk. Penerbit Gramedia. Jakarta.
Terrados, J. and C.M. Duarte. 2003. Southeast Asian Seagrass Ecosystem Under Stress: have we improved?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar